Ada sebuah perubahan besar yang terjadi di internet dalam dua dekade terakhir, tetapi mungkin jarang kita sadari: cara seseorang menjadi terkenal telah berubah berkali-kali.
Dulu, seseorang bisa dikenal karena tulisan.
Kemudian orang dikenal karena video.
Setelah itu, jumlah follower menjadi ukuran popularitas.
Hari ini, sebuah video berdurasi puluhan detik bahkan bisa membuat seseorang dikenal jutaan orang.
Perubahan itu membawa banyak keuntungan bagi dunia kreator. Tetapi ada satu kelompok yang mungkin justru kehilangan sebagian panggungnya dalam perjalanan tersebut: penulis.
Dan menariknya, mesin pencari seperti Google mungkin justru membuka jalan bagi kembalinya kekuatan mereka.
Dari blog dan tulisan menuju era influencer
Pada masa ketika blog masih menjadi salah satu pusat aktivitas internet, tulisan mempunyai posisi yang sangat penting.
Nama-nama seperti Raditya Dika menjadi contoh bagaimana tulisan di blog dapat membawa seseorang keluar dari ruang internet menuju popularitas yang lebih luas.
Pada masa itu, orang datang ke internet untuk membaca.
Blog menjadi ruang personal.
Tulisan menjadi identitas.
Pembaca menjadi komunitas.
Seseorang bisa membangun nama karena apa yang ia tulis, bukan semata-mata karena bagaimana ia tampil di depan kamera.
Kemudian internet berubah.
YouTube berkembang.
Facebook menjadi besar.
Twitter membentuk budaya percakapan baru.
Instagram mengubah cara orang menampilkan dirinya.
Dan akhirnya TikTok membuat video pendek menjadi salah satu pusat perhatian terbesar di internet.
Setiap perubahan membawa budaya baru.
Tetapi ada sesuatu yang ikut berubah:
pusat perhatian semakin bergeser dari tulisan menuju visual.
Ketika perhatian tidak selalu berbanding lurus dengan isi
Video mempunyai keunggulan luar biasa.
Manusia memang lebih mudah menangkap sesuatu yang bergerak, berbicara, dan menampilkan ekspresi dibandingkan membaca teks panjang.
Masalahnya, kemampuan mendapatkan perhatian tidak selalu sama dengan kemampuan menghasilkan gagasan.
Sebuah video dapat ditonton jutaan kali karena menarik.
Sebuah video lain dapat ditonton jutaan kali karena kontroversial.
Video lainnya bisa viral karena lucu.
Sementara sebuah tulisan yang membutuhkan waktu sepuluh menit untuk dibaca mungkin hanya mendapatkan sebagian kecil perhatian.
Di sinilah muncul sebuah paradoks internet.
Konten yang paling banyak dilihat belum tentu merupakan karya yang paling banyak memberikan nilai.
Dan penulis berada dalam posisi yang sulit.
Seorang wartawan bisa menghabiskan berhari-hari melakukan riset, melakukan wawancara, memeriksa data, menyusun informasi, kemudian menghasilkan sebuah tulisan yang sangat penting.
Sementara seseorang dapat membuat video singkat dalam waktu beberapa menit dan mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar.
Bukan berarti video tidak bernilai.
Video bisa sangat bernilai.
Tetapi sistem perhatian digital sering kali memberikan penghargaan berdasarkan kemampuan mendapatkan perhatian, bukan semata-mata berdasarkan kedalaman karya.
Lalu datanglah pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya yang kita kenal?
Bayangkan kita bertemu seseorang yang tidak terlalu mengikuti dunia jurnalistik.
Kemudian kita bertanya:
"Siapa Najwa Shihab?"
Kemungkinan besar banyak orang akan mengenalnya.
Mengapa?
Karena ia hadir dalam bentuk visual.
Ia hadir di televisi.
Ia hadir dalam video.
Ia hadir di YouTube.
Ia hadir di media sosial.
Identitasnya sangat kuat dalam budaya visual internet.
Sekarang coba pertanyaan yang berbeda:
"Siapa Octo Lampito?"
Atau:
"Siapa Samawi?"
Bagi orang yang hidup di lingkungan pers dan jurnalistik, nama tersebut tentu memiliki konteks.
Namun bagi sebagian generasi milenial dan Gen Z yang tidak mengikuti sejarah pers secara dekat, jawabannya mungkin berbeda.
Padahal, nama-nama senior dalam dunia jurnalistik dapat memiliki perjalanan panjang, pengalaman, karya, dan kontribusi yang tidak kecil.
Di sinilah kita menemukan sebuah persoalan.
Ketidakpopuleran seseorang di media sosial tidak selalu berarti kecilnya kontribusi seseorang.
Sebaliknya, popularitas di media sosial juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki rekam jejak panjang dalam suatu bidang.
Dua hal tersebut adalah ukuran yang berbeda.
Internet membutuhkan cara baru untuk membaca reputasi
Selama ini kita terlalu sering menggunakan satu angka untuk mengukur seseorang.
Follower.
Views.
Likes.
Subscriber.
Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada angka-angka tersebut.
Seorang wartawan mungkin tidak mempunyai jutaan followers.
Tetapi ia mungkin telah menulis ribuan berita.
Melakukan ratusan wawancara.
Meliput peristiwa penting.
Menjadi editor.
Memimpin redaksi.
Membimbing wartawan muda.
Dan bekerja selama puluhan tahun.
Jika semua itu tidak terlihat ketika namanya dicari di internet, maka ada masalah pada cara kita membangun ingatan digital.
Internet berisiko membuat generasi baru hanya mengenal orang yang paling terlihat, bukan orang yang paling lama berkarya.
Di sinilah tulisan menjadi penting.
Tulisan adalah rekam jejak yang dapat ditinggalkan
Video bisa viral dan kemudian hilang dari perhatian.
Posting media sosial dapat tenggelam dalam timeline.
Tetapi tulisan memiliki karakter berbeda.
Ia mempunyai judul.
Nama penulis.
Tanggal.
Isi.
Konteks.
Sumber.
Dan yang paling penting:
ia dapat ditemukan kembali.
Seseorang dapat mencari artikel lima tahun lalu.
Ia dapat mencari nama penulis.
Ia dapat mencari topik tertentu.
Ia dapat menemukan karya yang pernah diterbitkan.
Karena itulah tulisan memiliki potensi menjadi semacam arsip reputasi.
Seorang wartawan yang menulis selama 30 tahun sebenarnya sedang membangun sesuatu yang sangat besar.
Bukan sekadar kumpulan berita.
Ia sedang membangun sejarah digital atas dirinya sendiri.
Google dan kemungkinan lahirnya "Google influencer"
Di sinilah konsep yang menarik mulai muncul.
Google saat ini sudah memiliki konsep Search Profile, yang memungkinkan seseorang menghubungkan identitas dan kontennya dari berbagai platform. Dokumentasi Google menyebut bahwa Search Profile dapat menghubungkan konten dari platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, X, Facebook, serta website. Google juga menjelaskan bahwa Search Profile dapat digunakan untuk menampilkan profil dan konten seseorang dalam pengalaman Google tertentu.
Google juga memiliki Knowledge Panel, yaitu informasi yang ditampilkan Google mengenai entitas tertentu berdasarkan informasi dari berbagai sumber di web. Untuk entitas yang memenuhi syarat, Google menyediakan mekanisme verifikasi dan pengelolaan informasi tertentu.
Fitur-fitur tersebut belum berarti Google sudah menciptakan profesi bernama "Google influencer".
Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai sebuah kemungkinan.
Sebuah fase ketika kekuatan seseorang tidak lagi hanya dihitung berdasarkan berapa banyak orang yang mengikutinya, tetapi berdasarkan seberapa kuat identitas dan rekam jejaknya terbentuk di internet.
Bukan hanya follower, tetapi keseluruhan karya
Bayangkan dua orang.
Orang pertama mempunyai satu juta followers.
Orang kedua mempunyai 200 ribu followers, tetapi memiliki:
500 artikel,
20 tahun pengalaman,
puluhan wawancara,
beberapa buku,
website pribadi,
video,
podcast,
dan berbagai publikasi media yang menyebut namanya.
Jika seseorang ingin mengetahui siapa mereka, pencarian Google dapat memberikan konteks yang jauh lebih luas daripada sekadar angka follower.
Di sinilah saya melihat kemungkinan lahirnya sebuah ukuran baru:
searchable reputation.
Reputasi yang dapat ditemukan.
Bukan sekadar:
"Berapa banyak orang yang mengikuti Anda?"
Tetapi:
"Apa yang ditemukan dunia ketika nama Anda dicari?"
Ini bisa menjadi penyelamat bagi penulis
Bagi penulis, konsep ini sangat penting.
Karena penulis mungkin tidak akan pernah menang melawan influencer video dalam hal jumlah views.
Dan memang tidak perlu.
Seorang penulis memiliki permainan yang berbeda.
Ia dapat menulis.
Menulis lagi.
Menulis lagi.
Kemudian tulisannya diterbitkan di berbagai tempat.
Media daerah.
Media nasional.
Website pribadi.
Majalah.
Buku.
Jurnal.
Portal profesional.
Podcast dan wawancara yang kemudian menghasilkan halaman web.
Lama-kelamaan terbentuk sebuah jaringan karya.
Jika identitas penulis tersebut konsisten, maka seluruh karya itu dapat menjadi bagian dari jejak digitalnya.
Google tidak secara otomatis menjadikan seseorang terkenal hanya karena memiliki Search Profile. Bahkan Google secara eksplisit menjelaskan bahwa pembuatan Search Profile tidak secara langsung meningkatkan ranking konten di Google Search.
Namun justru di situlah letak gagasannya.
Nilainya bukan pada satu tombol.
Nilainya berada pada akumulasi.
Kejujuran reputasi
Saya menyebutnya sebagai sebuah bentuk kejujuran reputasi.
Bukan karena Google selalu benar.
Google juga bisa salah.
Informasi di internet bisa keliru.
Profil dapat tidak lengkap.
Tetapi semakin banyak karya publik yang tersedia, semakin banyak pula bahan yang dapat digunakan orang untuk memahami siapa seseorang.
Jika seseorang benar-benar telah menulis selama 20 tahun, karya itu dapat menjadi bukti.
Jika seseorang memang wartawan senior, arsip pemberitaan, wawancara, profil media, dan berbagai publikasi dapat menjadi bagian dari rekam jejaknya.
Jika seseorang benar-benar mempunyai keahlian tertentu, karya-karyanya dapat menjadi konteks untuk menilai perjalanan tersebut.
Dengan kata lain:
reputasi tidak hanya dibangun dari klaim seseorang tentang dirinya sendiri, tetapi juga dari jejak karya yang ditinggalkannya.
Inilah yang membedakan "viral" dengan "bernilai"
Viral adalah peristiwa.
Reputasi adalah akumulasi.
Sebuah video dapat viral dalam 24 jam.
Tetapi reputasi seorang wartawan dapat dibangun selama 30 tahun.
Masalahnya, sistem internet selama beberapa tahun terakhir sangat pandai menghitung viralitas.
Kita mempunyai angka views.
Likes.
Shares.
Followers.
Subscriber.
Namun kita belum selalu mempunyai cara yang sederhana untuk melihat kedalaman perjalanan seseorang.
Search dan web memberikan kemungkinan untuk melihat lapisan tersebut.
Bukan menggantikan follower.
Bukan menggantikan video.
Bukan menggantikan media sosial.
Tetapi melengkapinya.
Dari influencer menuju "identity"
Mungkin inilah perubahan berikutnya.
Dulu:
Blog → pembaca.
Kemudian:
YouTube → penonton.
Kemudian:
Media sosial → follower.
Kemudian:
TikTok → views dan viralitas.
Dan mungkin tahap berikutnya:
Search → identity.
Jika era sebelumnya bertanya:
"Berapa banyak orang yang melihat Anda?"
Era berikutnya mungkin bertanya:
"Siapa Anda sebenarnya?"
Dan untuk menjawab pertanyaan itu, angka follower saja tidak cukup.
Diperlukan karya.
Diperlukan arsip.
Diperlukan sejarah.
Diperlukan konsistensi.
Diperlukan jejak.
Di sinilah tulisan mendapatkan kesempatan kedua.
Wartawan mungkin mempunyai aset yang selama ini tidak dihitung
Seorang wartawan senior mungkin tidak mempunyai jutaan followers.
Tetapi jika selama puluhan tahun ia menghasilkan ribuan tulisan, maka ia sebenarnya mempunyai sesuatu yang sangat mahal:
arsip.
Masalahnya bukan apakah karya itu ada.
Masalahnya adalah apakah karya tersebut masih dapat ditemukan dan apakah internet dapat menghubungkannya dengan identitas orang yang membuatnya.
Jika jawabannya semakin sering "ya", maka tulisan tidak lagi sekadar menjadi produk jurnalistik.
Ia menjadi aset reputasi.
Dan ketika aset reputasi tersebut dapat ditemukan dengan mudah melalui mesin pencari, nilai ekonominya pun berpotensi meningkat.
Orang dapat menemukan penulisnya.
Media dapat menemukan narasumbernya.
Perusahaan dapat menemukan profesionalnya.
Penerbit dapat menemukan pengarangnya.
Brand dapat menemukan kreatornya.
Dan pembaca dapat menemukan kembali karya-karyanya.
Masa depan mungkin bukan milik orang yang paling banyak dilihat
Mungkin masa depan tidak akan sepenuhnya dimiliki oleh orang yang paling banyak ditonton.
Mungkin juga bukan oleh orang yang paling banyak memiliki follower.
Karena internet semakin besar dan semakin penuh.
Yang semakin penting bisa jadi adalah siapa yang mempunyai identitas yang jelas di tengah lautan informasi tersebut.
Seorang penulis yang telah menghasilkan karya selama 20 tahun mempunyai kesempatan untuk mengatakan:
"Jangan hanya lihat follower saya. Lihat apa yang sudah saya kerjakan."
Dan internet akhirnya mempunyai kemampuan untuk menjawab:
"Baik. Mari kita lihat."
Itulah mengapa kemunculan Search Profile dan perkembangan ekosistem pencarian Google menarik untuk diperhatikan.
Belum tentu ia akan menjadi mata uang baru.
Belum tentu istilah "Google influencer" akan menjadi profesi resmi.
Tetapi kemungkinan yang dibukanya sangat menarik:
bahwa di tengah dominasi video, follower, dan viralitas, teks dan karya yang terdokumentasi masih bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk membangun identitas, reputasi, dan nilai ekonominya sendiri.
Dan mungkin, bagi para penulis dan wartawan, itu bukan sekadar teknologi baru.
Itu adalah kesempatan untuk mendapatkan kembali panggung yang selama ini perlahan berpindah dari tulisan menuju layar.
Sumber
- Google Search Central — Add a Search profile badge to your website: https://developers.google.com/search/docs/appearance/search-profiles
- Google Search Help — Membuat profil Penelusuran baru: https://support.google.com/websearch/answer/16904498
- Google Knowledge Panel Help — Tentang panel pengetahuan: https://support.google.com/knowledgepanel/answer/9163198
- Google Knowledge Panel Help — Mendapatkan status terverifikasi di Google: https://support.google.com/knowledgepanel/answer/7534902
